Global Warming In The Earth

DISADARI atau tidak saat ini telah terjadi peningkatan suhu udara dunia sebagai akibat pemanasan global (global warming). Pemanasan global dipicu oleh kegiatan manusia terutama yang berkaitan dengan penggunaan bahan bakar fosil (BBF) dan kegiatan alih-guna lahan. Kegiatan tersebut dapat menghasilkan gas-gas yang makin lama makin banyak jumlahnya di atmosfer. Gas-gas tersebut di antaranya adalah karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrous oksida (N2O). Gas-gas tersebut memiliki sifat seperti kaca yang meneruskan radiasi gelombang pendek atau cahaya matahari, tetapi menyerap dan memantulkan radiasi gelombang panjang atau radiasi balik yang dipancarkan bumi bersifat panas sehingga suhu atmosfer bumi meningkat. Berada di bumi yang diliputi gas-gas tersebut bagaikan di dalam rumah kaca yang selalu lebih panas dibandingkan suhu udara di luarnya. Oleh karena itu, gas-gas tersebut dinamakan gas rumahkaca dan pengaruh yang ditimbulkan dikenal dengan nama efek rumahkaca yang selanjutnya menimbulkan pemanasan global dan perubahan iklim serta rentetan dampak lain di planet bumi.

Gejala alam ini telah diteliti secara aktif mulai dekade 1980-an dan hasilnya sangat mengejutkan para ahli lingkungan karena kengerian akan dampak yang dikhawatirkan muncul kemudian. Sekarang, dampak itu mulai kita rasakan.
Berdasarkan data peningkatan emisi gas rumahkaca di atmosfer, para ahli cuaca internasional memperkirakan bahwa planet bumi bakal mengalami kenaikan suhu rata-rata 3,50C memasuki abad mendatang sebagai efek akumulasi penumpukan gas tersebut. Bencana yang muncul cukup mencemaskan antara lain kenaikan permukaan laut akibat proses pencairan es di kutub, perubahan pola angin, meningkatnya badai atmosferik, bertambahnya populasi dan jenis organisme penyebab penyakit, perubahan pola curah hujan dan siklus hidrologi serta perubahan ekosistem hutan, daratan dan ekosistem lainnya.
Bukti-bukti ilmiah yang dikumpulkan para pakar lingkungan dunia selama bertahun-tahun banyak membantu memperjelas fenomena alam ini, dan hasilnya cukup mengejutkan seperti: di Tibet iklim mulai tidak stabil sejak Juni 1998 di mana terjadi gelombang udara panas, temperatur berkisar 250C selama 23 hari, kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kawasan Siberia, Eropa Timur dan Amerika Utara yang terkenal dengan udara sangat dingin kini mulai menghangat. Di Kairo pada Agustus 1998 tercatat suhu udara menembus angka 410C. Pada Agustus 1998 di Sidney Australia terjadi badai besar disertai hujan dengan curah hujan mencapai tiga kali ukuran normal. Sementara di Indonesia, Meksiko, Spanyol dan negara-negara lain di berbagai belahan dunia telah terjadi musim kering berkepanjangan sebagai akibat badai tropis yang berujung pada terbakarnya hutan jutaan hektar serta presipitasi hujan yang tinggi mengakibatkan bencana banjir dan kegagalan panen.
Simulasi model oleh pakar lingkungan Inggris memperkirakan lebih dari sejuta species akan terancam punah pada 2050, sedangkan species yang masih bertahan tidak akan lagi memiliki habitat yang nyaman, sementara sebagian lainnya harus bermigrasi cukup jauh untuk memperoleh tempat hidup yang sesuai guna mendukung kehidupannya. Simulasi ini diperkirakan cukup akurat mengingat penelitian di California melaporkan bahwa kupu-kupu jenis Edith Checkerspot telah mulai menghilang seiring naiknya suhu udara di kawasan tersebut. Sementara itu populasi penguin jenis Adeline di Antartika berkurang 33% dalam kurun 25 tahun terakhir akibat surutnya permukaan lautan es. Tim peneliti dari Kanada melaporkan bahwa jumlah rusa kutub Peary menurun drastis jumlahnya dari 24.000 pada 1961 menjadi hanya sekitar 1.000 pada 1997 akibat perubahan iklim yang cukup ekstrim.
Pemanasan global ternyata juga mulai memicu munculnya beberapa serangan penyakit yang sebelumnya belum pernah ada pada daerah tertentu. Sebut saja di kawasan pegunungan Andes Kolumbia – Amerika Tengah dengan ketinggian 1.000 – 2.195 meter dari permukaan laut dilaporkan muncul nyamuk penyebab penyakit malaria, demam berdarah dan demam kuning. Pada 1997 di Papua, penyakit malaria terdeteksi untuk pertama kalinya pada pemukiman di ketinggian 2.100 meter dari permukaan laut.
Bencana lain adalah naiknya permukaan air laut di kawasan kepulauan Bermuda Amerika Tengah. Dilaporkan bahwa di kawasan tersebut air laut telah meluap melampaui batas air payau dan memusnahkan ribuan hektar hutan bakau. Di Fiji terjadi penyusutan garis pantai sepanjang 15 cm/tahun selama 90 tahun terakhir ini. Berdasarkan hasil penelitian IPCC (1990) permukaan air laut telah naik sekitar 10-20 cm. Bila angka kenaikan permukaan air laut ini sampai menyentuh kisaran angka 20-50 cm maka habitat di daerah pantai akan mengalami gangguan bahkan musnah. Sedangkan peningkatan sebesar satu meter diprediksi akan mampu menggusur puluhan juta orang akibat terendamnya kota dan desa di kawasan pesisir, lahan pertanian produktif akan hancur terendam dan persediaan air tawar akan tercemar. Bencana terakhir yang terjadi di negara kita adalah gelombang pasang yang memporak-porandakan pemukiman warga di sepanjang pantai selatan pulau Jawa-Bali dan Sumatera. Bencana tersebut walaupun tidak menelan korban jiwa namun tidak sedikit kerugian yang harus diterima oleh masyarakat pesisir.
Dengan menyimak berbagai kenyataan yang telah terjadi di berbagai belahan dunia saat ini, maka perlu dilakukan tindakan menyeluruh secara global disertai komitmen yang kuat untuk menekan meluasnya bencana akibat pemanasan global. Secara sederhana tindakan yang bisa dilakukan adalah pengembangan etika hemat energi dan ramah lingkungan. Budaya penghematan energi terutama yang terkait dengan energi yang dihasilkan dari bahan bakar fosil (BBM) harus benar-benar dilaksanakan dengan penuh kesadaran.
Pelaksanaan World Ocean Conference (WOC) 2009 di Bumi Nyiur Melambai yang telah mendapat dukungan dari berbegai pihak seperti: United Nations Environment Programme (UNEP), UN Habitat dan Global Forum on Oceans, Coasts and Islands serta menghadirkan tokoh-tokoh dunia sebagai keynote speakers seperti Sekjen PBB, mantan wakil presiden AS (Al Gore), Putera mahkota Kerajaan Belanda, mantan Menteri Lingkungan Hidup RI (Emil Salim), Presiden RI, Pangeran Alexander, Perdana Menteri Cina, Perdana Menteri Australia, dan BJ Habibie merupakan suatu momentum yang sangat penting dan sangat berarti, oleh sebab itu momentum ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyatukan visi dan komitmen pemimpin-pemimpin bangsa serta para ilmuan dan investor dari berbagai belahan dunia bersatu menyelamatkan kehancuran bumi ini dari ancaman pemanasan global.
Di Manado dan Sulawesi Utara pada umumnya 2009 diharapkan akan lahir suatu kesepakatan global yang memuat nilai-nilai luhur sebagai bentuk kepedulian dunia untuk menyelamatkan sumberdaya laut dari ancaman pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim global terhadap laut (Impacts Of Global Climate Change on Ocean) dan menyelamatkan keanekaragaman hayati laut (Marine Mega Biodiversity).
Bumi ini hanya satu marilah kita menjaganya dan tidak mengotorinya apalagi menghancurkannya karena hal itu hanya akan mendatangkan bencana bagi semua penghuninya termasuk anak cucu kita. Mari kita wariskan bumi yang bersih dan sehat bagi generasi mendatang.#

 

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Blog Stats

    • 78,706 hits